Ada sepasang sepatu usang terduduk lusuh
bersandar pada tembok putih terlihat begitu gontai.
"betapa sedihnya aku seperti ini" jerit tertahan
sepatu itu..
"ehm..ehm.." sepatu tak sadar tembok di
belakangnya turut menahan pilunya..
"tak perlu kamu sedih seperti itu sepatu, semua
memang ada waktunya " ujar tembok bijak.
sepatu sedikit terhibur, lalu tersenyum..
"tapi aku sedih ditinggalkan sendiri di sini,
padahal seharusnya aku ikut gadis kecil itu ke sekolahnya" ungkap sepatu. Kali
ini tidak sedih hanya kecewa.
"sudahlah sepatu, kamu mungkin sudah waktunya
beristirahat. Lihat badanmu penuh jahitan dan sobekan" ujar tembok yang bijak,
tapi sepatu tertunduk lagi.
"aku memang sudah sepantasnya diganti, sekarang
aku tak berguna lagi" keluh sepatu sepi.
tembok tersenyum..
"sepatu, kamu tak boleh seperti ini, kamu itu
sangat berguna, dan setiap apapun mempunyai masa tugas yang harus dijalaninya.."
"maksud tembok ?" sepatu belum mengerti.
"apapun itu selama ada harus melaksanakan tugas,
seperti aku yang harus menjaga dan melindungi isi dari rumah ini. Namun, pada
suatu hari nanti masa tugas semuanya akan habis, entah cepat atau lambat."
"jadi, maksud tembok sekarang ini masa tugasku
sudah habis ?" tembok mengangguk tenang, tapi sepatu tertunduk malas lagi.
"jadi kira-kira begitulah sepatu, mungkin
sekarang kamu memang harus beristirahat dari tugasmu" hibur tembok pelan.
"tapi sepatu masih sayang pada gadis kecil itu,
masih ingin melindungi kaki-kaki kecilnya, masih ingin di rawat oleh kedua
tangan halusnya." ratap sepatu sendu.
"tenanglah sepatu, kalau kamu memang sayang pada
gadis kecil itu, kamu harus biarkan dia bahagia juga dengan sepatu barunya. Kamu
jangan sedih lagi. Percayalah, gadis kecil itu sayang padamu, makanya dia tak
mau merepotkanmu lagi yang sudah banyak cela. Dia berharap kamu akan bisa
beristirahat setelah kelelahan melindunginya selama ini.." tembok memang bijak
seperti dirinya yang kokoh, meski tak diperhatikan sekalipun.
"seperti itukah tembok ? rasanya aku ingin
sekali berterimakasih pada semua" sepatu tersenyum haru.
kini sepatu yang usah lusuh bangkit dan mencoba
berdiri tegap semua di sekelilingnya memandang ramah.
inikan indahnya berarti?
betapa bahagianya
bila berguna bagi orang lain..